Gelap mendadak. Jutaan warga Jawa dan Bali merasakan pemadaman listrik bergilir sejak 9-10 Juni 2026. Awalnya pemerintah berdalih masalah teknis mesin pembangkit. Namun tiga hari kemudian, narasi itu berubah.
Pada 15 Juni 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia akhirnya mengakui di depan Komisi XII DPR: PLN kesulitan mendapat batu bara kalori medium karena selisih harga yang terlalu lebar.
Begini hitungannya: Produsen wajib jual ke PLN lewat skema DMO seharga US$70/ton. Tapi harga pasar batu bara kalori medium (HBA periode I Juni 2026) sudah menyentuh US$84,53/ton selisihnya lebih dari US$14/ton. Dengan margin sekecil itu, produsen lebih untung jual ke pasar ekspor atau industri lain.
Hasilnya? Dari 190 juta ton yang ditugaskan pemerintah, baru 134 juta ton yang terikat kontrak. Masih kurang 20 juta ton.
Pemerintah kini membentuk tim pengadaan bersama PLN, Dirjen Minerba, dan BPKP untuk menutup gap ini. Bahlil juga memastikan tidak akan ada pemadaman lagi sambil mengakui bahwa kualitas batu bara domestik memang terus menurun secara alami.
Ini bukan sekadar soal lampu mati. Ini sinyal bahwa kebijakan harga DMO perlu segera dievaluasi sebelum krisis serupa terulang.