Dua Faktor Utama Pendorong Kenaikan
1. Lonjakan Harga Minyak Akibat Ketegangan Geopolitik
Pada hari yang sama, harga minyak dunia melonjak tajam menyusul serangkaian serangan baru yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,41% ke level US$ 96,02 per barel, sementara Brent menguat 1,89% ke US$ 97,81 per barel.
Kenaikan harga minyak turut mendorong harga batu bara karena keduanya berfungsi sebagai komoditas substitusi — saat minyak mahal, permintaan terhadap batu bara sebagai sumber energi alternatif cenderung meningkat.
2. Krisis Pasokan Coking Coal di China
Faktor kedua dan yang lebih struktural datang dari China. Sebuah kecelakaan tambang maut di Provinsi Shanxi menewaskan 82 orang dan memicu gelombang inspeksi keselamatan ketat di ratusan tambang batu bara di seluruh negeri. Banyak tambang terpaksa menghentikan operasi, sehingga pasokan coking coal (batu bara kokas) mengetat secara signifikan.
Di sisi lain, permintaan dari sektor baja justru tetap kuat. Produksi hot metal China bahkan mencapai level tertinggi sejak Oktober tahun lalu, mendorong kebutuhan bahan baku seperti coking coal terus meningkat menjelang musim puncak konsumsi energi di musim panas. Akibatnya, harga kontrak batu bara kokas di Dalian Commodity Exchange melonjak tajam.
Sisi Lain: Batu Bara Termal Justru Tertekan
Menariknya, tidak semua segmen batu bara ikut terbang. Harga batu bara termal justru mengalami tekanan karena produksi domestik China tetap tinggi dan stok di pelabuhan maupun pembangkit listrik terus menumpuk. Permintaan listrik belum cukup kuat untuk menyerap kelebihan pasokan tersebut.
Kondisi ini merupakan dampak dari kebijakan pemerintah China yang sebelumnya mendorong peningkatan produksi domestik demi ketahanan energi pasca-krisis listrik beberapa tahun lalu. Kebijakan itu kini menciptakan paradoks: pasokan berlimpah di satu sisi, kelangkaan di sisi lain — bergantung pada jenisnya.
Impor batu bara China pun mulai melemah karena pembeli lebih memilih pasokan domestik yang lebih terjangkau, sehingga harga batu bara termal di level tambang kehilangan momentum kenaikan.
Sumber data: Refinitiv, CNBC Indonesia (4 Juni 2026)